"Hector!" bentak wali kelasku.
"Kamu ini ngelamun terus. Pulang sekolah, temui ibu di ruang guru!"
"Iya, iya..."
Sudah kesekian kalinya aku ditegur oleh guru, bukan hanya wali kelasku tapi juga guru yang lainnya. Padahal aku baru saja masuk disekolah baruku ini.
"KRINGGG!!!" bel tanda usai sekolah berbunyi.
"Permisi bu!"
"Iya, Hector. Akhir-akhir ini saya lihat kamu sering melamun. Ada apa?"
"Saya pun juga tidak tahu Bu."
"Kalau kamu sekali lagi melamun, Ibu hukum kamu!"
"Iya, Bu..".
Tak hanya di rumah, tapi ternyata di sekolah pun juga sama. Saat istirahat, Saat aku sendiri, bahkan saat guru menerangkan aku sempat melamun.
"Au!" teriak salah seorang perempuan yang kutabrak.
"Oh, maaf, maaf. Sini gua bantu".
"Ya ampun. Kalau jalan liat-liat dong! Jangan melamun! Liat dong, bukunya jadi berantakan nih!".
"Iya, iya, maaf, maaf".
Perempuan itu langsung pergi meninggalkanku, tampaknya dia terlihat kesal.
Saat aku pulang ke rumah, tak seperti biasanya. Tak ada seorang pun di rumah, biasanya ada pembantuku di rumah. Aku tinggal hanya dengan pembantuku. Bisa dibilang aku ini "Anak Perantauan". Ibu ku berada di luar kota. Kata ibuku, ayah ku sudah meninggal. Saat aku bayi pun, aku belum pernah bertemu dengannya. Aku tak tinggal bersama ibuku karena saat aku SMA, aku merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk bersekolah disini.
"Srek.. Srek..." terdengar suara aneh dari loteng.
Aku naik ke lantai 2 dan aku langsung merasakan adanya tanda-tanda yang aneh. Kulanjutkan perjalananku untuk sampai ke loteng dan saat sampai aku terkejut melihat bercak darah dengan tulisan "HIDUPMU AKAN BERAKHIR"
***
*Mischa's Plot*
Jam 14.00 disekolah. Tidak akan ada hal yang baru. Yah... Setidaknya, itulah yang kuperkirakan untuk kehidupanku nanti.
"Mischa!"
"Oh, Natalia...", pikirku.
"Hari ini mau pulang bareng denganku, tidak?"
"Ah, tidak. Masih ada yang ingin kulakukan di sekolah."
Coba pikir, apa jadinya jika aku menyetujuinya? Mungkin aku akan melewati hari-hari monoton lagi. Jadi, aku memilih untuk keliling-keliling sekolah dahulu. Sekedar mencari suasana...
GUBRAKK
"Au!"
"Oh, maaf, maaf. Sini gua bantu"
Oh.. Ada murid yang tabrakan. Kupikir apa...
Ng.. Kalau tidak salah yang satunya bernama Michelle, lalu yang satunya... Aku belum pernah melihatnya, mungkin murid pindahan. Lupakan sajalah.
Lalu, kuputuskan untuk meninggalkannya dan pergi ke kantin untuk makan. Saat aku duduk dan menunggu, aku menyadari kalau ada tulisan kecil yang mencolok di meja yang dituliskan dengan spidol merah..atau...darah? "HIDUPMU AKAN BERAKHIR"
***
*Michelle's Plot*
Siang hari di sekolah, semua terlihat sepi. Dan akhirnya, kuputuskan untuk mengerjakan tugas matematika.
"Hmm... Ini kok susah juga.. ?? Ng.."
DUAAAKKK
"Oh, maaf, maaf. Sini gua bantu" kata seorang lelaki yang sepertinya murid pindahan yang tidak kukenal.
"Ya ampun. Kalau jalan liat-liat dong! Jangan melamun! Liat dong bukunya jadi berantakan nih!"
"Iya, iya, maaf, maaf"
"Maaf, maaf.. Enak aja lu minta maaf!" gerutuku dalam hati.
Untuk mengusir kejenuhan, aku memutuskan untuk ke toilet dan cuci muka. Saat kunyalakan keran, aku langsung terkejut saat air yang keluar adalah darah dan dibalik percikan darah itu terlihat sebuah tulisan yang bertuliskan "HIDUPMU AKAN BERAKHIR"
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar